Pedas memang mudah menarik perhatian, tetapi daftar bahan masakan Korea menunjukkan lebih banyak lapisan untuk dibaca. Kimchi dapat hadir sebagai lauk pendamping sekaligus bahan resep, sementara bumbu yang digunakan juga mencakup gochujang, minyak wijen, doenjang, kecap, garam, bawang putih, dan jahe.[1] Melihat peran setiap bahan memberi gambaran yang lebih utuh daripada menyebut satu hidangan hanya "pedas".
Kimchi bisa menjadi lauk sekaligus bagian dari masakan
Kimchi umumnya dibuat dari sayuran seperti sawi, lobak, atau mentimun yang difermentasi. Dalam sajian tradisional, kimchi kerap menjadi banchan—lauk pendamping yang disantap bersama nasi dan sup atau kaldu. Kimchi juga digunakan sebagai bahan dasar dalam berbagai resep masakan Korea.[1]
Dua posisi itu penting saat membaca komposisi hidangan. Kimchi yang disajikan sebagai banchan hadir sebagai lauk tersendiri; ketika menjadi bagian dari resep, ia masuk ke dalam susunan bahan masakan. Jadi, keberadaan kimchi tidak otomatis berarti sebuah hidangan hanya mengandalkan rasa pedas.
Gochujang adalah satu bumbu di antara banyak pilihan
Gochujang disebut sebagai saus cabai yang digunakan dalam masakan Korea, bersama beragam bumbu lain seperti doenjang, kecap, garam, bawang putih, jahe, dan minyak wijen.[1] Karena itu, mengenali gochujang membantu menemukan unsur pedas, tetapi belum cukup untuk menjelaskan seluruh komposisi sebuah sajian.
Contoh yang lebih spesifik muncul pada jjigae: hidangan jjigae yang dibumbui gochujang disebut gamjeong dalam uraian hidangan istana Joseon.[2] Contoh ini menunjukkan peran gochujang sebagai bumbu dalam suatu jenis masakan, bukan penanda tunggal bagi semua hidangan Korea.
Kaldu membantu mengenali bentuk sajian
Kaldu bukan sekadar pelengkap dalam daftar bahan; kehadirannya ikut menjelaskan jenis hidangan yang sedang dibaca. Dalam uraian hidangan istana Joseon, sejumlah sajian mi disajikan dengan kaldu sapi. On-myeon, misalnya, memadukan mi dengan kaldu sapi, telur dadar, dan daging sapi panggang.[2]
Perbedaan jenis sup juga terlihat dari keterangannya: malgeun-guk adalah sup bening, sedangkan gom-guk menjadi kental karena direbus dalam waktu lama.[2] Perbandingan ini membantu mengalihkan perhatian dari pertanyaan "seberapa pedas?" ke susunan yang lebih lengkap: apa dasar kuahnya, bagaimana bentuk hidangannya, dan bahan apa yang menyertainya.
Membaca bahan sebagai satu komposisi
Contoh lain dari hidangan istana Joseon memperlihatkan susunan bahan yang beragam. Tteokguk, misalnya, merupakan sup kue beras yang dimasak bersama kaldu sapi dan disajikan dengan telur dadar serta daging sapi panggang.[2] Pada contoh ini, kue beras, kuah, telur, dan daging sama-sama menjadi bagian dari gambaran hidangan—bukan sekadar wadah bagi satu bumbu.
Kimchi, gochujang, dan kaldu menawarkan tiga petunjuk yang berbeda: kimchi dapat tampil sebagai lauk atau bahan resep, gochujang adalah salah satu bumbu, dan kaldu menandai dasar sejumlah sajian berkuah.[1][2] Membaca peran-peran itu membuat lapisan masakan Korea lebih mudah dikenali, tanpa mereduksi tiap sajian menjadi soal pedas saja.
Sumber
- [1] Wikipedia bahasa Indonesia — Hidangan Korea. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=30016918&title=Hidangan_Korea (diakses 2026-10-03).
- [2] Wikipedia bahasa Indonesia — Hidangan istana Dinasti Joseon. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=27509247&title=Hidangan_istana_Dinasti_Joseon (diakses 2026-10-03).
